Jumat, 24 Januari 2014

Tanpa Dendam

Ada sebuah harapan yang aku ingin miliki saat ini
Harapan memiliki sebuah hati yang lapang
Murah menerima maaf
Ikhlas tanpa dendam mendoakan sisi yang menyakiti
Membiarkannya bebas dan sadar sendiri akan perangainya
Setiap laku akan mendapat balasan sesuai dengan harga yang kau beri
Dan luka ini,
Ia pasti mengering
Aku hanya menunggu waktu
Tanpa perlu mengutukmu


.AnnJasmine

Senin, 30 Desember 2013

Sisa ruang

Pernah menyadari bahwa semua hal yang terjadi selama ini memang sudah diatur?
Sudah diatur, dirancang sedemikian rupa
Membentuk alur yang membawa kita pada takdir
Sebagai seorang dewasa, alur tersebut terlihat sebagai jawaban atas doa dan keberhasilan fokus
Tapi sebagai seorang anak kecil, alur tersebut hanya sesederhana harapan dan mimpi

Mungkin tiba saatnya untuk berhenti menjadi orang dewasa
Kembali dalam keadaan dimana imajinasi mengijinkanku lepas
Membebaskanku secara mutlak pada sesuatu yang tidak mungkin dan tidak terbayangkan

Saat dini
Visualisasi harapan tak pernah salah atau pun benar 
Ini cuma soal aku dan tujuan
Bukan perihal stigma baik buruk kalian
Beri aku sedikit nafas di sisa ruang yang makin sempit ini

.AnnJasmine

Kamis, 19 Desember 2013

Rumit

Sungguh aku tak paham jalan pikirmu
Kau buat aku tersesat di dalamnya

Kukira semua sudah usai
Putuskan tali dan hidup sendiri-sendiri

Berpuluh-puluh jam terbang dalam radar terpisah

Dan tanpa pengakuan atas keputusan
Semudah berkedip kamu datang di hadapan

Semudah itu kamu mengaduk hatiku
Semudah itu kamu melemahkan otakku


.AnnJasmine

Sabtu, 26 Oktober 2013

May I?

Dua puluh tahun aku berjalan. Kuturuti semua mau. Kuikuti perintah. Kuhindari larangan. Salahkah jika muncul dalam benak ketika aku bilang aku muak menjadi patuh? Bukan. Bukan upaya menghancurkan fondasi yang sudah terbangun sedemikian rupa. Aku hanya ingin tau seperti apa rasanya bebas. Ini bukan gerakan pemberontakan. Aku pun tak ingin menyakiti hatimu, menghamburkannya. Hanya saja aku mohon, berikan aku ruang untuk berpikir, bertindak dan berlaku sebagaimana diriku yang apa adanya, bukan aku yang seharusnya. Percayalah setelahnya aku pasti akan mengikuti polamu lagi. Aku hanya ingin bermain di luar sebentar. Nanti pasti kembali. Bolehkah?

.AnnJasmine

Jumat, 25 Oktober 2013

Kumohon, jangan lelah

Saat itu matahari mulai kembali beranjak ke perduannya. Ya, lagi-lagi petang. Dan kutuliskan pesan dari hatiku yang merasa terusik. Aku terlahir terlalu peka. Sedikit saja bersinggungan normaku, percik apinya bisa cepat berpindah tempat. Dari hati ke otak. Curiga pun tangkas melumpuhkan kerja akal sehat. Terobos terus tanpa tengok kanan kiri. Yang penting cepat, ku dapatkan alasannya. Gegabah. Itulah aku.

Percaya adalah instrumen nomor satu. Menjaga, merawat dan memeliharannya hingga dewasa ternyata sulit. Biarkan ia jatuh, merasa sakit di awal dan kebal di kemudian hari. Menjadi matang dan kuat. Sayangnya, aku tak pandai soal membinanya.

Tak kusangka, waktu itu lagi. Puncak amarah skala molar. Lagi-lagi ku mengalah, karena tak mau pisah. Kucoba tarik talinya, kembali ke akar, benarkah ku salah? Tak penting, asal masa kita tetap tanpa reduksi. Seperti yang pernah kamu bilang, apa yang kita lakukan sekarang adalah melakukan segala hal yang tidak bisa kita dapatkannya nanti. Iya, kita tak akan pernah. Jadi Tuhan menebusnya dengan bahagia yang temporer. Sekarang waktunya. Berpatok pada kata-mu tadi, aku semakin tidak ingin miliku terbagi. Ternyata selain terlahir terlalu peka, aku juga terlahir egois. Menyesalkah kamu?

Saraf menegang, nafas memburu, dan kelenjar air mata bekerja sempurna. Sakitnya menjalar dari dada. Perih. Segera kutelan madu agar menjadikannya netral kembali. Aku benci merasakannya. Sesak udara membangkitkan ingatanku pada usaha kita yang sudah setengah jalan. Memang sudah setengah jalan, tapi tak akan pernah sampai selesai di ujung sana. Kata itu lagi, tak akan pernah sampai selesai. Mengertikah kamu, tak bisa memilikimu nanti membuatku otomatis menjadi pribadi yang posesif akut? Aku ingin terus berjalan bersama hingga batas akhir kita. Menikmati hari sebelum habis masanya. Apakah pintaku berlebihan?

Maaf


Dari aku-yang saat ini milikmu
.AnnJasmine



Rabu, 11 September 2013

Sakit

Adakah hati yang selalu utuh? Mungkin ada, tapi tak kuketahui keberadaannya. Yang pasti, hebat sekali pemiliknya. Bisa menjaga dari intervensi yang sering ditebar semaunya.
Aku tak pernah mau merasakannya. Kekuatan kanda yang datang entah darimana, akhirnya sanggup membuatnya lebur. Pernahkah aku memintanya? 

Maha pembolak-balik hati, tampaknya masih ingin melihatku terus begini. Menikmati sajianNya hingga habis tanpa tersisa. Jika durinya belum habis, maka aku tidak boleh berhenti. 

Jika saja aku boleh menomorsatukan ego, sudah pasti aku akan meminta hidangan lain. Yang Engkau sajikan ini mengenyangkan namun menyakitkan, Tuhan. Aku tak pernah mempermasalahkan kebodohanku yang tidak mengambil langkah seribu untuk melarikan diri. Karena ada rasa yang salah di sana. Menikmati namun tersakiti. Bodoh.