Rabu, 19 Juni 2013

Kapan lepas. Kapan bebas.

Kota ini sudah melahirkanku
Membesarkan, merawat hingga dewasa
Ya, dewasa kataku

Belum cukupkah ku membungkam nurani
Selama sepuluh kali dua tahun
Menutup erat kecut dengan manis senyuman

Aku terus mengutuk diriku
Yang sepanjang perjalanan medadak bisu
Suaraku kamu tiru
Serupa persis dengan maumu

Kamu membiarkanku memikul beban inginmu
Di pundakku yang makin bungkuk
Terus merunduk tertunduk oleh banyak maumu

Kakiku kamu paksa berlari di jalan yang kamu anggap benar
Tidak akan tersasar-katamu
Mataku kamu tutup
Hingga tak bisa melihat jalan lain
Ya, jalan melarikan diri

Harapanku di pagi lusa, pagi ini dan esok pagi, masih sama
Berharap menemukan jalan keluar
Jalan darurat, jalan utama, jalan tikus, apapun itu namanya
Asalkan aku bisa keluar
Menemui takdir yang mungkin kamu belokkan
Menemui asa yang entah bagaimana kabarnya
Menemui harapan yang lama terabaikan

Kumohon, biarkan aku keluar
Tak masalah jika harus merangkak
Aku sudah biasa kamu nomorduakan
Ya, nomor dua setelah ambisimu

Semoga lekas terkabul

.AnnJasmine

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar